Hai, Mas Aziz. Selamat malam, Mas. Sedang apa di sana?
Mungkin sedang makan malam bersama keluarga tercinta. Aku selalu berdoa agar
Mas dan orang-orang yang Mas sayangi selalu diberi kesehatan dan keselamatan di
manapun berada. Mas, malam ini aku ingin bercerita. Entah, tidak ada cerita
yang spesifik atau sangat seru hingga perlu sekali untuk segera diceritakan
pada Mas Aziz sebenarnya. Hanya saja tiba-tiba malam ini aku merasa ingin
menumpahkan banyak isi hati yang mungkin lebih mirip keluh kesah kepada siapa
lagi orang yang paling bisa membuatku nyaman untuk berbagi cerita kalau bukan
Mas. Tadinya aku terpikir untuk menuliskannya di buku yang sedang kubuat untuk
Mas, tapi karena sepertinya terlalu banyak sehingga akan memakan waktu yang
terlalu lama jadi aku tulis di sini saja. Lagi pula capek juga kalau harus
nulis tangan sebanyak yang sedang ada di pikiranku saat ini.
Mas ingat kan, akhir-akhir ini aku sering sekali
cerita kalau aku sedang sedih. Setiap hari terasa sangat menyedihkan. Setiap
hari seperti tidak ada semangat apapun untuk menjalani hidup, tidak ada hal
menyenangkan apapun yang terjadi dalam hidup yang bisa membuatku merasa sedikit
segar atau bahagia. Menyedihkan sekali memang hari-hari seperti itu. Rasanya
hampir gila. Berkutat di dalam kotak sempit bernama rumah tidak bisa
kemana-mana dalam kondisi tubuh yang tidak sehat sehingga untuk melakukan
apapun tidak ada rasa nyaman sama sekali, ditambah kondisi orang tua yang
kesehatannya juga sedang memburuk, nyaris seperti tidak ada setitikpun rasa
senang tersisa di rumah ini. Kelam. Suram. Mungkin kata-kata itu yang sedikit mampu
merepresentasikan isi hatiku belakangan ini.
Aku ingin sekali seseorang bisa merasakan apa yang aku
rasakan akhir-akhir ini, tapi sulit sekali menceritakannya. Seperti tidak
kunjung bertemu istilah yang tepat atau kalimat-kalimat yang dapat
menggambarkan dengan baik. Semuanya juga terasa sangat asing bagiku. Terlalu
malas juga untuk mencari seseorang yang mau mengerti dan bisa memahami isi
hatiku, di samping nyaris mustahil juga mengingat kompleksnya perasaan tidak
nyaman yang sedang berkecamuk di dalam diriku belakangan ini. Aku
menafsirkannya sendiri saja kesulitan. Aku tidak mengerti cara
mengendalikannya, aku tidak tahu bagaimana mengatasi perasaan semacam ini. Aku
tidak tahu bagaimana harus bangkit dan kembali ceria seperti sebelumnya.
Meskipun Mas berkali-kali selalu bilang, “Ayo ceria, dong”, dan kalimat-kalimat
lain sejenis itu, aku tetap tidak bisa, Mas. Aku mau andai aku tahu caranya.
Tapi aku tidak tahu. Aku juga ingin ceria seperti biasanya, tapi aku tidak
bisa.
Kalau mas ingat, sepertinya aku pernah bilang tentang
kehidupanku yang sangat membahagiakan, bukan? Tentang aku yang seperti tidak
pernah merasakan cobaan pahit dalam hidup. Semua yang aku miliki terasa
sempurna dan masalah-masalah yang kuhadapi selalu mampu kuatasi dengan
baik-baik saja. Aku tidak pernah merasa kesulitan sedangkan aku melihat orang
lain seperti banyak sekali mendapat cobaan bertubi-tubi yang terlihat berat
sekali untuk dilalui. Lalu kalau Mas ingat juga, Mas mengatakan bahwa syukurku
yang amat besar. Bahwa aku selalu bisa melihat sisi baik dari segala hal,
tentang bagaimana aku bisa selalu tenang menghadapi apa saja dan cobaan serta
masalah tak pernah kuanggap sebagai sesuatu yang sangat besar dan berat
sehingga aku dapat melaluinya dengan terkesan mudah saja karena kelapangan
hatiku. Mas ingat pernah berkata begitu, bukan? Lalu jika Mas ingat juga, aku
pernah mengatakan tentang kekhawatiran tak berdasarku. Aku merasa takut
jangan-jangan ini seperti pelangi sebelum badai. Aku merasa takut tak berdasar,
jangan-jangan aku sangat bahagia karena sebentar lagi akan menanggung sebuah
luka yang berat. Lalu Mas membantah dan mengatakan bahwa itu tidak benar.
Bodohnya aku memang karena justru pernah terbersit hal-hal buruk semacam itu.
Seharusnya aku terus bersyukur saja dan menerima semua takdir dari Yang Di Atas
dengan lapang hati.
Entah karena prasangka burukku sendiri atau bukan,
tapi hari-hari ini seperti badai yang aku takutkan itu, Mas. Semuanya terasa
menyedihkan buatku. Pertama, abi jatuh sakit cukup lama hingga tidak mampu
berangkat bekerja satu pekan lebih lamanya. Kedua, belum juga abi pulih dari
sakitnya, aku sudah menyusul jatuh sakit. Badanku mulai panas dan ada satu hari
di mana demamku sangat tinggi. Beberapa hari berikutnya pun aku hanya bisa
terbaring di tempat tidur dengan segala perasaan tak nyaman. Makan tak enak,
tidur tak nyenyak, semuanya tak nyaman, semua terasa lemas dan sakit. Dibarengi
Safa yang juga ikut sakit, membuatku makin tidak semangat untuk cepat pulih.
Rasanya makin ikut sakit. Alhamdulillah, kondisi daya tahan tubuh Safa bagus
sekali. Sejak lahir hingga hari ini Safa tidak pernah sakit lama.
Belum sembuh total dari sakitku, tenggorokanku mulai
terasa panas. Sakit dan perih saat aku menelan makanan apapun. Badan masih
terasa sangat lemas, melakukan pekerjaan apapun tak sanggup, lambat laun
penciumanku mulai menghilang. Makan apapun tak berasa. Nafsu makan yang sudah
banyak berkurang kini makin hilang entah ke mana. Belum sembuh dari itu semua,
ummi yang kelelahan merawat kami semua mulai ikut jatuh sakit. Menyakitkan sekali
melihat orang yang paling kita cintai tergeletak lemas tak berdaya di tempat
tidur. Hanya bisa berbaring dengan tubuh lemas menahan rasa sakit. Sungguh,
Mas. Hari-hari saat ummi dan abi sakit adalah hari-hari paling menyiksa dalam
hidupku. Tidak ada semangat sedikitpun yang kurasakan di tiap detik hidup yang
aku lewati. Aku tidak berhenti berdoa, mengharapkan kesembuhan untuk kami
semua, tapi juga dengan nyala semangat yang makin redup.
Aku tahu aku seharusnya tidak berlarut-larut dalam
kesedihan ini. Aku harus bisa bangkit dan semangat kembali. Hanya saja, aku
bingung caranya. Aku tidak bisa, belum bisa, mengatasi rasa sakit yang terlalu
dalam ini. Aku tidak sanggup melihat orang-orang yang kucintai harus kesakitan.
Itu adalah hal termenyakitkan yang pernah kurasakan dalam hidup. Mungkin ada
banyak orang lain di luar sana yang merasakan sakit yang lebih dalam, mungkin
itu karena hati mereka jauh lebih kuat untuk bisa menahan semua rasa itu. Tapi bagiku,
melihat orang tuaku lemah tak berdaya sudah bisa menghancurkan hatiku menjadi
berkeping-keping dan tidak tahu lagi bagaimana cara tetap melanjutkan hidup
dengan normal.
Hari ini, Mas. Hari ini aku sedang bertekad untuk
berusaha bangkit dari semua keterpurukan ini. Senyum Safa yang sangat aku sukai
memberiku semangat dan harapan baru untuk terus sehat dan menjaga orang-orang
yang aku sayangi. Aku tak ingin melihat mereka semua jatuh sakit lagi. Menulis kepadamu
juga memberiku suatu percikan semangat baru untuk tetap memiliki sesuatu yang
positif yang bisa aku lakukan dalam hidupku. Aku selesaikan tulisan ini untuk
membuatku tetap terjaga melakukan sesuatu selain berdiam dan menangis. Ah iya,
rasa-rasanya justru sudah jarang sekali aku menangis. Seperti tidak lagi bisa
menangis. Setiap malam tidurku tak pernah lagi nyenyak. Hal-hal yang banyaknya
adalah hal buruk, berseliweran di kepalaku dengan lancangnya. Membuatku terjaga
dengan perasaan tidak bahagia.
Tapi mulai malam ini, aku akan berusaha lebih positif.
Mudah sekali memang untuk mengatakannya. Tapi sebenarnya susah sekali berusaha
tetap positif di saat kondisi hatimu dan kehidupanmu sedang mempermainkanmu dan
mengajakmu merasakan jenis perasaan paling tidak bahagia yang pernah ada. Benar-benar sulit sekali. Pikiran negatif seperti terus bertabrakan di dalam isi kepala. Sulit sekali untuk menjelaskan semua ini. Tapi ini benar-benar sulit dilewati buatku. Mas,
terima kasih sudah selalu menyemangatiku. Tapi aku hanya ingin bilang pada Mas
Aziz. Di saat-saat terburuk yang sedang kuhadapi, yang paling kubutuhkan adalah
teman. Yang paling aku butuhkan adalah Mas menunjukkan betapa Mas tetap peduli
dan sayang padaku. Bahwa Mas akan selalu ada untukku seburuk apapun kehidupan
sedang jahat padaku. Bahwa Mas bersedia membantuku apa saja dan akan selalu ada
di sisiku kapan saja. Mas tidak perlu bilang bahwa semuanya akan baik-baik
saja, Mas hanya perlu tetap di sampingku dan tidak pernah pergi. Mas tidak
perlu mengatakan hal-hal seperti memintaku tetap ceria dan sebagainya karena
itu sungguh tidak berguna. Aku juga tahu akan melakukan hal itu jika aku
bisa, tapi apa yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bertahan sekuat mungkin
hingga di titik terakhir. Maka yang aku butuhkan bukanlah Mas menyemangatiku
untuk tetap baik-baik saja karena sungguh itu adalah hal yang tersulit untuk
dilakukan di saat kehidupanku tidak baik-baik saja. Yang aku butuhkan hanya Mas
tetap ada untukku, mendukungku. Itu saja.
Sekali lagi aku berterima kasih untuk semuanya yang
Mas beri. Kalau tidak ada Mas, mungkin hari-hari ini akan jauh lebih sulit lagi
untuk kulalui. Terima kasih Mas selalu mendengarkanku dan seluruh celotehku
ini. Mungkin tidak akan pernah ada usainya aku berceloteh seperti ini pada Mas
hingga nanti kita menua. Semoga Mas tidak pernah bosan berada di sampingku
menjadi teman bicaraku. Semoga semua tentang kita akan disegerakan dan aku bisa
bersama dengan Mas sesegera mungkin sehingga hari-hari seberat ini tidak akan
pernah ada lagi karena semuanya dapat kujalani dan kubagi berdua dengan Mas dan
semuanya akan terasa lebih mudah. Semoga ya, Mas.